BERMANFAAT TAPI BISA BERISIKO, MANDI DI AIR PANAS BERCAMPUR BELERANG DARI GUNUNG BERAPI

Warga tampak sedang asyik berendam di air panas mengandung belerang di kaki gunung Sibayak, Kabupaten Tanah Karo, Selasa (4/7).

Warga tampak sedang asyik berendam di air panas mengandung belerang di kaki gunung Sibayak, Kabupaten Tanah Karo, Selasa (4/7).

TANAH KARO,(BERITA 5 INDONESIA): Kini, mandi dan berendam di air panas yang berasal dari gunung berapi dan mengandung unsur belerang (sulfur), semakin trend di masyarakat kita. Sehingga, jangan heran jika ada kesempatan, seperti liburan, banyak warga yang langsung membuat jadwal perjalanannya ke pemandian air panas.

Salah satu objek air panas itu adalah di kabupaten Tanah Karo. Air panas yang sengaja dikumpulkan pada kolam-kolam oleh warga di kaki gunung Sibayak itu, kini juga sudah menjadi lahan bisnis warga kampung tersebut.

Bahkan, selain menyiapkan kolam-kolam air panas bercampur belerang itu, pihak pengelola berani membangun fasilitas penginapan bagi pendatang yang datang dari luar daerah. Luar biasa! Air panas yang berasal dari gunung berapi itu merupakan rahmat bagi masyarakat yang tinggal di kaki gunung Sibayak. Sehingga pantaslah, kalau masyarakat ikut bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan adat istiadat yang ada di daerah itu.

Memang jika badan yang sebelumnya terasa letih dalam perjalanan, jika sudah masuk dan berendam di dalam air panas di kolam-kolam yang ada, rasa letih dan sakit-sakit seperti pegal – pegal bisa hilang. Akibatnya, banyak yang lupa, karena enaknya, mereka tetap bertahan di dalam air panas itu sampai lama, bahkan satu atau dua jam.

Pakar kesehatan herbal dari negeri China, Rudy Than, yang terus menerus menggeluti cara pengobatan dengan mempergunakan air panas asal dari gunung berapi dan lumpur bekas lahar gunung berapi, pernah mengingatkan, agar kita tidak boleh berlebihan ketika menikmati rasa enak air panas mengandung belerang dari gunung berapi itu. Akibatnya bisa berisiko fatal.

Untuk itu dia sarankan, boleh kita menikmati enaknya berendam di dalam air panas belerang asal dari gunung berapi itu. Tetapi harus diketahui aturannya, agar kita nantinya benar-benar mendapatkan faedah atau manfaatkan dari air panas tersebut.

Disarankan, untuk golongan anak-anak balita, jangan berikan berendam terlalu lama di air panas yang mengandung belerang tersebut, karena akan berpengaruh dengan pertumbuhan otot dan kulit tubuhnya. ”Anak-anak balita hanya boleh berendam 5 sampai 10 menit saja di air panas itu, karena jika terlalu lama, pori-pori kulit tubuhnya akan mengalami kerusakan,” tulis pakar kesehatan itu.

Untuk anak-anak remaja, disarankannya, boleh berendam di air panas gunung itu paling lama 15 sampai 20 menit. Dan orang dewasa yang usianya sebelum 50 tahun disarankan untuk berendamlah di air panas itu selama-lamanya 30 sampai 45 menit. Sementara orang dewasa yang berusia di atas 50 tahun dapat bertahan di dalam air panas sampai 60 menit namun jangan lebih dari 90 menit, karena kulit tubuh yang sudah ‘mengeras’, kaku dan keriput, bisa berubah menjadi lentur kembali, namun hal itu bisa membahayakan dan berpengaruh dengan sistim peredaran darah.

Selain itu disarankan, setelah berendam dan keluar dari kolam air panas jangan langsung menyiram tubuh dengan air dingin, karena perubahan suhu air yang tiba-tiba bisa merusak jaringan kulit, terutama pori-pori tubuh. ”Sebaiknya, istirahat atau keringkan tubuh sebentar di luar air panas dan setelah dirasakan suhu tubuh kembali normal, baru lakukan penyiraman dengan air dingin. Mandi bersih dan gunakan sabun,” lanjut Rudy Than.

Dan terakhir, sebaiknya setelah itu, anda disarankan untuk mengisi perut anda, karena pasti anda akan merasa lapar atau ingin makan. Hal itu memang bagian dari akibat dan pengaruh air panas tersebut di tubuh kita. Ayo, silakan makan. Jangan biarkan perut anda lapar, apalagi sampai perut anda diisi oleh angin. Bisa kembung nanti.

Nah, itu dia. Anda percaya dengan saran-saran itu? Sebaiknya boleh dipraktekkan. Anda pilih, mau praktek melawan saran pakar kesehatan itu atau praktek mengikuti sarannya, terserah anda. Bagaimana hasil dari praktek itu nanti, mari berbagi pengalaman.Oke!(Lie/Tarigan)

Berita Terkait